AKTIVITAS KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA VERBAL DAN NONVERBAL DALAM DAKWAH
AKTIVITAS KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
VERBAL DAN NONVERBAL DALAM DAKWAH
Oleh: Ekma Lestari Laras Suci
UIN Surabaya
(B01219010)
A.
PENDAHULUAN
Globalisasi terjadi
karena perkembangan teknologi yang begitu pesat. Teknologi informasi yang
semakin canggih memungkinkan setiap orang mengenggam infromasi. Hanya dalam
hitungan menit bahkan detik, informasi dari Arab Saudi bisa diterima orang
Indonesia. Kecanggihan teknologi transportasi memungkinkan setiap orang
berkunjung ke setiap negara berbeda hanya dalam waktu beberapa jam.
Pertukaran kebudayaan
adalah hal yang sangat mungkin terjadi, karena siapapun yang datang dari suatu
negara atau daerah sudah pasti tidak akan terlepas dari budaya di mana ia lahir
dan dibesarkan. Dengan budaya yang mengakar di dalam dirinya, ia harus berbagi
ruang dengan orang lain dari budaya lain. Pertukaran budaya ini, mungkin saja
menimbulkan konflik.
Konflik bisa diredam
dengan lahirnya sebuah kesadaran bahwa setiap orang harus bisa memahami budaya
orang lain yang berbeda budaya dengan dirinya. Menurut Deddy Mulyana bahwa
budaya-budaya yang sangat berbeda memiliki sistem- sistem nilai yang berbeda
dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda. Cara kita
berkomunikasi sangat bergantung pada budaya kita: bahasa, aturan, dan norma
kita masing-masing.[1]
B.
PEMBAHASAN
Berbeda budaya berarti
berbeda dalam menyampaikan ide, gagasan, dan berbeda dalam perilaku keseharian.
Berbeda budaya berarti berbeda dalam strategi komunikasi. Seorang yang hanya
mengerti bahasa daerah tidak akan bisa mengerti bila menerima pesan dalam
bahasa Indonesia. Seorang yang budayanya begitu santun kepada orang tua tidak
akan menerima orang yang tidak hormat terhadap orang yang dituakan. Seorang
yang dalam kebudayaannya terbiasa bersikap apa adanya tidak akan menerima
budaya yang penuh kepura-puraan.
Candio Elliot
mencontohkan, gaya promosi diri mungkin sangat sedikit ditampilkan oleh
penduduk asli Amerika (native) termasuk orang Asia umumnya, disusul orang
Hispanik, dan gaya seperti itu kebanyakan digunakan oleh orang Afrika. Gaya
berpakaian formal mungkin sedikit ditunjukkan oleh orang Hispanik dan penduduk
asli orang Afrika, namun sangat banyak dipamerkan oleh orang-orang Anglo
(Amerika Campuran).
a)
Komunikasi
Verbal
Secara umum, komunikasi verbal adalah komunikasi
yang berbentuk lisan ataupun tulisan, contohnya adalah penggunaan kata-kata.
Sedangkan komunikasi non-verbal adalah komunikasi yang tidak menggunakan
kata-kata, contohnya menggunakan bahasa tubuh seperti mimik wajah dan gerakan
tangan, bahkan intonasi suara dan kecepatan berbicara.
Komunikasi verbal berupa kata-kata yang diucapkan
langsung (berbicara) bisa dilakukan secara langsung (face to face) atau dengan
perantara media, contohnya berinteraksi menggunakan sosial media atau telepon
genggam. Sedangkan komunikasi verbal yang melalui tulisan bisa dilakukan
menggunakan media seperti surat, postcard, chating di media sosial, dan
sebagainya.
b)
Komunikasi Non
Verbal
Komunikasi non-verbal lebih sering terjadi dalam
komunikasi secara langsung atau face to face. Sebabnya, dalam komunikasi
menggunakan media digital, komunikasi non-verbal seringkali tidak mungking
dilakukan. Contohnya ketika kita sedang chatting, tidak mungkin kita bisa
melihat ekspresi wajah lawan bicara kita atau mendengar intonasi suaranya.
Karena keterbatasan ini pula komunikasi non-verbal sering menimbulkan
kesalahpahaman. Contohnya, terkadang ada orang yang menggunakan emoji secara
tidak tepat. Misal seseorang salah mengirim emoji marah padahal sebenarnya dia
ingin mengirim emoji tersenyum yang terletak di sebelahnya. Hal ini bisa
menyebabkan orang yang dikirimi pesan menjadi salah paham dan ikut marah.
Komunikasi verbal dan non-verbal pada hakikatnya
saling terkait dan saling melengkapi. Dalam komunikasi langsung, kita
terus-menerus mengirimkan pesan pada lawan bicara kita. Komunikasi non-verbal
sering terjadi seacar otomatis dan tanpa kita kontrol. Contoh ketika kita marah
atau senang, kita cenderung berbicara dengan lebih keras dan cepat. Hal ini
terjadi karena kita mengalami perubahan emosi. Komunikasi nonverbal juga
melengkapi komunikasi verbal kita. Ketika kita mengatakan satu hal, jika
gerak-gerik tubuh kita tidak mendukung, orang tentu tidak akan percaya. Semisal
kita berkata sudah mengerjakan PR namun dengan nada ragu-ragu, teman kita pasti
tidak akan ada yang percaya.
c)
Komunikasi Dakwah
Komunikasi dakwah adalah proses penyampaian informasi atau pesan
dari seseorang atau sekelompok orang kepada seseorang atau sekelompok orang
lainnya yang bersumber dari al-Quran dan hadist dengan menggunakan
lambang-lambang baik secara verbal maupun nonverbal dengan tujuan untuk
mengubah sikap,
Untuk prinsi-prinsip
komunikasi dakwah itu sendiri di antaranya:
§ Komunikasi adalah suatu proses simbolik ajaran agama.
§ Setiap perilaku memiliki potensi komunikasi.
§ Komunikasi memiliki dimensi isi dan dimensi hubungan.
§ Komunikasi berlangsung dalam berbagai tingkat
kesenjangan.
Letak perbedaan antara komunikasi dan komunikasi dakwah tersebut yang
sangat menonjol sebenarnya terletak pada muatan yang terkandung di dalam
pesannya. Dalam hal ini, komunikasi sifatnya
lebih netral dan umum, sedangkan dalam dakwah terkandung nilai kebenaran dan keteladanan Islam.
Komunikasi dakwah, karena sifatnya adalah mengajak, juga mampu
menguatkan kepercayaan seseorang. Kepercayaan seseorang biasanya akan semakin
dipupuk berkat adanya komunikasi
dakwah ini. Keterampilan dalam merangkai kata yang bagus dan juga penuh makna perlu
ditingkatkan agar fungsi ini
juga bisa terjadi.
[1] Deddy Mulyana & Jalaluddin Rahmat, Komunikasi antar budaya: Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda, (Bandung: Remaja Rosdakarya,2000), h.vi
Komentar
Posting Komentar