FAKTA MENARIK TENTANG LAMONGAN
Lamongan, kabupaten di Provinsi Jawa Timur dengan Kota Lamongan sebagai ibu kota. Kabupaten ini juga termasuk dalam kawasan metropolitan Surabaya, yakni Gerbangkertosusila (Gresik–Bangkalan–Mojokerto–Surabaya–Sidoarjo–Lamongan).
Nama Lamongan identik dengan Soto Lamongan. Soto ini punyai ciri khas koya udang yang membedakannya dengan soto lainnya. Berkat rasanya yang lezat, Soto Lamongan terkenal di seluruh Indonesia. Selain soto, Kabupaten Lamongan juga dikenal sebagai penghasil padi, jagung dan kedelai terbesar di Jawa Timur. Bahkan pada 2017, mereka mengalami surplus produksi padi, jagung dan kedelai atau pajale.
Mereka juga memproduksi sarung yang tak hanya dijual di dalam negeri tapi sampai diekspor ke luar negeri. Kerajinan yang digerakkan sekitar 28 pelaku usaha di Kecamatan Paciran dan Maduran ini bahkan hasil produksinya sampai masuk empat besar di Jawa Timur, sebagai penghasil sarung dengan jenis sarung tenun. Pemerintah setempat melalui Dinas Koperasi dan UMKM terus berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada para perajin sarung, seperti mempermudah perizinan, memberikan pelatihan, dan menyokong dana bagi mereka.
Tentunya Lamongan menyimpan banyak hal-hal menarik lainnya. Di Daerah Lamongan sendiri ada cerita tentang mitos pantang makan lele. Pecel lele Lamongan termasuk kuliner yang sering dijumpai di Indonesia. Di tempat asalnya, ternyata warga asli Lamongan, terutama warga Desa Medang, pantang untuk mengonsumsi ikan lele. Mitosnya warga yang nekat mengonsumsi lele bisa gatal-gatal di sekujur tubuh hingga muncul bercak-bercak putih seperti ikan lele.
Ada berbagai versi cerita latar belakang mitos tersebut. Salah satunya diceritakan kalau Sunan Giri bertamu ke rumah seorang wanita di daerah Glagah, Lamongan. Salah satu pusakanya ternyata tertinggal di rumah itu. Ia kemudian mengutus Boyopatih untuk mengambilnya. Namun, Boyopatih tidak disambut baik pemilik rumah.
Boyopatih memutuskan menyamar menjadi kucing untuk mengambil pusaka. Mbok Rondo pun menyadari hal itu dan meneriaki maling, sehingga ia dikejar oleh penduduk sekitar. Boyopatih kemudian menceburkan dirinya ke kolam lele dan penduduk kehilangan jejaknya. Boyopatih merasa diselamatkan oleh ikan-ikan lele di kolam, kemudian bersumpah melarang anak turunannya untuk mengonsumsi lele.
Ekma Lestari Laras Suci (B01219010)
Komentar
Posting Komentar